Rabu, 07 Juli 2021

[After Story] Di-tampol, saat Berkunjung Ke SMAN 5 Malang! (Part-3 END)

 

Tidak apa, semua akan baik saja. Betapa Allah SWT menyayangi hamba-Nya, serta kemudian menunjukkannya dengan cara istimewa.

     
          Dedaunan berserak diatas tanah. Selembar daun yang jatuh pun,
bahkan tidak terlepas dari pengawasan Allah SWT. Lokasi pengambilan foto
       di area PUSLATPUR (Pusat Latihan Tempur) Purboyo, Kab. Malang. 
(Sumber : Dokumentasi pribadi).


#Estimasi durasi baca : 15-20 menit
#Rekomendasi waktu baca : ba`da Shubuh atau sebelum tidur
        
        Hai! Senang rasanya bisa menyapa pembaca blog ini 😊
        Gimana kabar kamu hari ini? Aku beneran berharap kamu dan orang-orang tersayangmu tetap sehat selama masa pandemi. Sehat lahir maupun batin. 😊

        Belum sampai satu minggu yang lalu masyarakat Indonesia mendapat kabar kurang menyenangkan, angka penderita Covid-19 mencapai angka infeksi harian tertinggi. Bayangkan,.. hanya dalam satu hari saja, ada dua puluh ribuan lebih pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Pemerintah Indonesia kemudian merespon dengan menginstruksikan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk wilayah Pulau Jawa dan Bali.

        Mulai dari tanggal 3-20 Juli 2021, ada beberapa aturan yang harus kita taati. Tentu aturan tersebut dibuat untuk kebaikan kita bersama, aku yakin pemerintah sudah mikir banyak hal, mengkaji, menimbang, dan akhirnya memutuskan buat PPKM. Kalau kamu ingin informasi lebih lengkap, bisa disimak pada tautan ini yaa (klik disini).

        Sekarang kita masuk ke sharing session. Bismillah.. Pernah nggak kamu gelibukan di kasur karena ngerasa udah ngantuk, capek, being overwhelmed, memaksa mata untuk terpejam tapi pada akhirnya harus melek lagi? Well,.. terhitung sudah delapan purnama, aku mengalaminya. Selain aktivitas rutin yang alhamdulillah banget bisa dilakuin tiap hari, sisa energi tubuh aku konversikan ke kegiatan nulis, ngegambar, masak, belajar desain, fotografi, dan banyak kegiatan lain yang sekiranya bikin exhausted. Harapannya sederhana aja sih, biar malem bisa tidur nyenyak dan berkualitas.

        Salah satu perubahan yang muncul akibat seringnya insomnia adalah.. mata panda dan tekanan darah yang cenderung rendah. Sistol selalu dibawah 110 mmHg, dan diastol dibawah 70 mmHg. Mata panda terkadang masih bisa disembunyiin pake kacamata. Gegara seringnya darah rendah, gerak dan respon tubuh rasanya jadi ga selincah dulu. Terus ada lagi, badan jadi sering pegel sewaktu diajakin aktivitas berat, ujung-ujungnya tepar dong... But wait, bukan berarti aku kurang bersyukur yaa, justru bisa mengenali perubahan dalam diri termasuk salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT. Kalau bisa tahu apa yang berubah, kita bisa perbaiki sedini mungkin, kan?

        Sehat menjadi prioritas utama, apalagi pas pandemi gini. Gimana caranya deh, yang penting sehat lahir batin. Aku jadi ingat sama kalimat ini, "Mens sana in corpore sano", yang berasal dari bahasa Latin dan udah dikenal oleh khalayak luas. Artinya adalah pikiran sehat berada dalam tubuh yang sehat. Kalau ingin pikiran sehat, berarti tubuh juga kudu sehat? Ataukah karena pikiran yang sehat, tubuh jadi ikut sehat pula? Terlepas dari bagaimana pemaknaannya, kita coba kulik beberapa hal seputar nikmat "sehat" aja, yuk!

1. Sehat menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
        Sehat, menurut KBBI adalah, "baik seluruh badan dan bagian-bagiannya (bebas dari sakit); waras". Jadi kita bisa memahami, hematnya.. sehat adalah keadaan tubuh saat nggak sakit. Langsung kebayang, orang-orang dengan tubuh macam pesepakbola Christiano Ronaldo dengan kadar lemak tubuh sekitar 7%, jadi sosok ideal yg representatif terhadap kata sehat. Kalau sosok Indonesia, aku jadi keingat sama Iko Uwais, Yayan Ruhian, Joe Taslim, Sandiaga Uno, Max Metino, dan banyak lagi yang terkenal dengan persona fit-nya.

2. Pernah dengar istilah "Sehat wal `afiyah"? Apa maknanya?
        Aku sering banget denger istilah ini, apalagi saat tergabung dalam grup Whatsapp atau platform sosmed lainnya, yang anggotanya kebanyakan orang-orang sepuh (bhs. Jawa: tua). Jadi kepikir artinya sehat wal`afiyah itu sebenernya apa yaa..?

الصِّحَّةُ
dalam kamus bahasa arab artinya nggak jauh beda dengan KBBI.

kalau الْعَافِيَةُ
dalam kamus bahasa arab artinya adalah "sehat sejahtera". Bisa juga dimaknai gini.., dalam terminologi Islam, artinya adalah "perlindungan dan kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT terhadap hamba-Nya, sehingga terhindar dari penyakit dan bencana di dunia maupun akhirat".
        
        Kalau mau dipahami secara simpel (karena aku suka yang simpel 😅), sehat wal`afiyah adalah keadaan tubuh yang kuat dan terbebas dari penyakit, bencana, tipu daya, diberikan kekuatan untuk tetap berpegang teguh terhadap ajaran Islam, serta mendapatkan perlindungan dari Allah SWT sehingga kita selamat dunia dan akhirat.

        Bisa aja seseorang itu sehat, tetapi nggak `afiyah.. karena tubuhnya (meskipun sangat mampu dan kuat) nggak mau diajakin untuk beribadah kepada Allah SWT. Okay, noted.

3. Antonim untuk kata sehat adalah...? Yep, sakit...
        Kita buka lagi KBBI yaa, nggak boleh bosen buka KBBI pokoknya, biar kita nggak perlu terjebak dalam kebingungan antara diksi pulang kampung dan mudik. Sorry jadinya out of topic. Well, aku nemuin kata sakit dapat diartikan sebagai, "berasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu". Jadi jelas banget, kalau dalam KBBI kata "sakit" itu erat hubungannya dengan fisik, sementara kalau sakit pada non-fisik aku belum nemuin istilah khususnya. Ntar kalau kalian nemu kasih tahu aku yaa. 🙏😁   

4. Sekarang, kita coba belajar bahasa Arab dikit.. masih tentang sakit dan penyakit
        By the way, pada poin bahasan keempat ini, aku akan coba sarikan dari apa yang pernah Ustadz Adi Hidayat sampaikan. Beliau pernah membahas secara khusus tentang sakit dan obat/penawar. Yuk baca basmalah dulu sebelum memulai bahasan ini, agar semakin barokah.         
        Firstly, kita akan coba memahami diksi sakit dalam bahasa Arab. Ternyata ada dua (setidaknya itu yang aku tahu) padanan kata sakit, jika kita mencarinya dalam bahasa Arab.

(a) دَاء , apabila sakitnya berhubungan dengan penyakit fisik. Misalnya aja.., sakit gigi, mata merah karena iritasi, asam lambung, maag, diare/mencret, sakit kepala, dan lain sebagainya. Kalau kita kena Day by Day.. a.k.a DBD (Demam Berdarah Dengue), itu berarti masih tergolong دَاء yaa teman-teman. What if -let me say it loudly- you`ve had broken your heart? Nah.., perih cenat-cenut yang kamu rasain itu termasuk kategori دَاء apa nggak kira-kira..? 😂

(b) مَرَض , apabila sakitnya berhubungan dengan penyakit non-fisik, tapi kemudian membawa pengaruh ke keadaan fisik kita. Atau bisa juga dipahami sebagai penyakit yang masih terkait dengan fisik, tapi susah sembuhnya kalau cuma ngandalin obat-obatan dari dokter aja. Kudu ada ikhtiar bathinnya gitu loh, serta bertawakkal kepada Allah SWT.

        Wabilkhusus kata مَرَض , ternyata ada penjelasannya lagi loh. Nggak berhenti perasaan kagumku terhadap luasnya istilah dalam bahasa Arab (note: bukan berarti aku nggak kagum sama bahasa yang ku gunakan sehari-hari yaaa). Ustadz Adi Hidayat yang memiliki pemahaman mendalam terhadap bahasa Arab terlebih dahulu ngebahas istilah Al-Qur`an yang berkaitan dengan hal-ihwal reproduksi dan embriologi. Beliau menyitir surat Al-Mukminun : 12-14, tentang asal mula manusia.. dimulai dari fertilisasi nutfah (mani) dengan ovum, kemudian berkembang membentuk "sesuatu" yang menempel di permukaan rahim sebelum akhirnya terbenam dalam rahim. Didalam rahim, embrio akan terus berkembang hingga membentuk fetus (janin) yang memiliki bentuk seperti manusia... manusia yang berukuran mini, lengkap dengan seluruh organ ekstremitas hingga jemari. Maha Suci Allah SWT, Sang Pencipta Yang Paling Baik (أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ).

        Sewaktu mendengar penjelasan Beliau, dititik ini aku ngerasa bahasan ini cukup dalam dan agak jauh dari topik sakit/penyakit. Belum nemuin benang merahnya gitu rasanya sih. Ternyata penjelasan lanjutannya nih yang bikin engeh, berasa dapat enlightenment. Ah.. betul sekali memang pesan dari mbahku, "Ngelmu iku pancen kudu kuat tirakat lan sabar" (bhs. Jawa : menuntut ilmu memang harus kuat untuk tirakat serta bersabar). Pada saat bentukan janin telah sempurna, Allah SWT akan meniupkan ruh. Pada saat bersatunya ruh dan jasad inilah, Allah SWT mulai mengilhamkan tentang perkara fujur dan takwa (As-Syams : 7-8).

        Ini dia yang aku tunggu, beneran. Akhirnya benang merahnya ketemu, nih. Saat kita mulai bertumbuh besar, kemudian mampu memahami dan memilah perkara baik & buruk, hitung-hitungan takwa dan fujur sudah berlaku. Perkara takwa adalah segala sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah SWT. Sementara itu, perkara fujur bisa dipandang sebagai pembanding agar manusia melibatkan akal dan qalbunya agar lebih bertakwa. Lho kok bisa gitu..? Iya, fujur itu simpelnya adalah perbuatan melanggar syariat. Kalau kita tidak menuruti nafsu untuk berbuat fujur, alhamdulillah peluang berbuat takwa akan jauh lebih besar.

        Seandainya ceritanya lain..? Katakanlah jika kita ternyata terjebak pada perbuatan fujur, ambil contoh iri dengki, marah meledak-ledak, hasad, and so on.. maka sebenernya kita udah nabung untuk menderita مَرَض , dan ini yang berbahaya. Oh iya.. Ingat sama potongan ayat ini nggak..? Kata مَرَض ditujukan pada qalbu, bukan organ hati yaa maksudnya. Dapat kita pahami nih, qalbu yang sifatnya non-fisik juga bisa menderita penyakit.

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ
"Dalam hati mereka ada penyakit..." (Al-Baqarah : 10)

        Let say, salah satu penyakit yang diderita oleh qalbu adalah hasad. Orang yang punya sifat hasad, ga tenang hidupnya.. ruhani yang sakit, jasmaninya jadi ikutan kebawa (bukan aku, sumpah.. ini based on true story-nya orang lain). Ada loh, kasus orang yang saking parahnya punya sifat hasad ke orang lain, malah jadinya si orang hasad itu kena darah tinggi, jantung, dan stroke. Serem banget ini kan...? Kinda suicidal, but gently.
        
        Bukan jasmaninya yang sakit, tapi ruhaninya. Sakit jasmani, diri kita sendiri yang paling tahu dimana letaknya. On the other hand, kalau sakit ruhani.. orang lain yang lebih merasakannya dan akan ikut terkena dampaknya.

5. Kalau memang sudah terlanjur sakit, apa yang harus dilakukan...?
        Sabar.. kita pahami pelan-pelan dulu ya. Kita akan mulai pelajari dari segi bahasanya dulu. Aku suka dengan kemiripan bahasa Arab pada kata obat dan sakit. Cuma beda satu huruf. Kalau sakit itu دَاء , dan obat itu (secara umum) adalah دَوَاء . Mungkin dari kalian ada yang pernah dengar tentang hadist berikut ini:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah 'azza wajalla". (HR. Muslim)

        Cakep banget kan ya? Rasulullah Muhammad SAW memberikan kita secercah harapan untuk mencapai kesembuhan. Ini dulu deh yang paling penting, harapan dan kemauan untuk sembuh yang tumbuh dari dalam diri sendiri. Inner power yang tumbuh dari spiritual quotient gitu lah yaa kira-kira. Nanti, insyaAllah pada tulisan berikutnya kita akan bahas kaitannya dengan metabolisme tubuh. Sekarang lanjut dulu yaa. Pada hadist yang lain, kita juga dapat temukan kata دَاء , tetapi tidak disandingkan dengan kata دَوَاء begini hadistnya:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
"Tidaklah Allah menurukan suatu penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya". (HR. Bukhari)

        Begini penjelasan Ustadz Adi Hidayat terkait diksi شِفَاءً , terkadang kita akan menjumpai penyakit yang susah untuk ditangani oleh dokter.. baik dari fisik maupun non-fisik. Upaya manusia, sekuat apapun itu, tidak akan bisa menyembuhkan sakit tersebut.. kecuali hanya dengan pertolongan berupa penawar (شِفَاءً) dari Yang Maha Penyembuh (الشَّافِي), Allah SWT.

        Mungkin saat ini ada dari kita yang sedang sakit, dan sedang berikhtiar sekuat tenaga untuk lekas pulih kembali seperti sediakala. Bersabarlah dengan sakit yang kita derita, karena hal tersebut bisa menjadi penghapus dosa/kesalahan yang pernah kita perbuat.

(a) Bersabarlah
        Usah kau resah.. Tidak apa, semua akan baik saja. Betapa Allah SWT menyayangi hamba-Nya, serta kemudian menunjukkannya dengan cara istimewa. Coba kita perhatikan hadist berikut ini.

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya". (HR. Bukhari)

(b) Ikhtiar. 
        Selain bersabar terhadap apa yang tengah kita hadapi, kita ga boleh diem gitu aja. Sabar terhadap ujian bukan berarti bersikap pasif yaa.. kudu dan wajib banget untuk berikhtiar. Bentuk ikhtiar kita kalau sedang sakit fisik adalah ke dokter, terus bakal dapat resep, tebus di apotek, dan minum obatnya sampai habis. Bisa juga dokter merujuk kita ke rumah sakit, dan ternyata kita harus stay beberapa hari disana.. itu juga termasuk bagian ikhtiar kita agar bisa sembuh. Intinya adalah, kalau yang diderita adalah sakit fisik, please mintalah bantuan dokter dan tenaga medis. 

        Apabila sakit yang diderita ternyata non-fisik, ikhtiar kita adalah mendatangi majelis ilmu. Kalau aku boleh jujur sih yaa.. aku menghindari majelis lucu yang kebetulan ada di channel Youtuber`s asal Indonesia. Ini preferensi pribadi, karena yang aku inginkan adalah obat untuk hati, tidak hanya sekedar tertawa haha-hihi. Anyway, bicara tentang obat untuk hati, ada 5 perkara yang gampang dilaksanakan. 
(1) Pertama, baca Qur`an dan memaknainya (dengan bantuan seorang yang `alim). 
(2) Kedua, sholat malam.. tahajjud, meskipun dua rakaat coba aja diistiqomahin.
(3) Ketiga, cari circle orang-orang yang shalih/shalihah.. beneran ini healing banget. 
(4) Keempat, berpuasa.. berpuasa dapat kita anggap sebagai banteng benteng bagi seorang muslim.
(5) Kelima, memperbanyak berdzikir (mengingat Allah SWT) pada malam hari. 

        Kalau pada bagian awal aku sempat nyinggung "Mens sana in corpore sano", sekarang aku ingin seegaknya berbagi insight ke kalian semua.. Selain jasmani dan pikiran, ada elemen ruhani yang harus kita rawat, nggak boleh kita abaikan. Sebagaimana jasmani yang bisa kelaparan, ruhani juga demikian.. bisa merasakan hal yang sama. Ruhani yang kelaparan, sakit, atau mengalami defisiensi nutrisi akut juga dapat menimbulkan bahaya bagi jasmani dan pikiran. So, please take care yaa...

(c) Tawakkal 
        Sabar udah, Ikhtiar udah... tinggal tawakkalnya aja nih yang perlu dilatih, hehehehe. Tawakkal kalau dari segi bahasa artinya adalah menyerahkan, mewakilkan, dan mempercayakan. Sementara itu, dalam Islam, konsep tawakkal dimaknai sebagai berserah diri..., serta mempercayakan segala urusannya hanya kepada Allah SWT semata. Bahasan-bahasan tentang tawakkal seperti ini nggak bisa klo dicerna pake otak aja.. kudu melibatkan hati. Hati kita yang paling tahu, kapan aja sih poin-poin dalam hidup kita dimana kita udah ngerasa mentok.. udah ngelakuin semua yang kita bisa.. dan murni berserah hanya kepada Allah SWT. 

        Sabar, ikhtiar, dan tawakkal itu proses kehidupan.. yang secara alami kita lakuin. Nggak bisa berharap sukses 100% pada first trial.. karena emang ketiga proses tersebut membutuhkan latihan seumur hidup.


Kesimpulan
        Pada penghujung tulisan kali ini, aku ingin flashback sebentar ke bagian awal (part 1) yang aku tulis bulan lalu. Aku yang saat itu ngerasa butuh obat tapi nggak tahu harus cari kemana.. tiba-tiba aja Allah SWT kasih, dari jalan yang nggak disangka-sangka. Allah SWT langkahkan kakiku ke SMA 5 Malang, dan nemuin hikmah dari perjalanan itu.
        
        Nggak cukup sampai disitu, pada perjalanan pulang menuju rumah (aku tulis di part 2).. Allah SWT tunjukin betapa Dia sangat care kepada semua makhluk-Nya.., sehingga sifat Rahman dan Rahim-Nya juga diturunkan kepada manusia. Ummat manusia kemudian bisa berbuat baik.. serta berkasih sayang ke sekitarnya . Nah disini titik sadarku,.. nggak akan mencoba mengelak atau denial lagi atas segala yang terjadi.
.
.
Aku terima semuanya dengan sesadar-sadarnya...
.
.
Aku harus keluar dari jebakan pikiran picik, yang melihat diri ini sebagai pusat semesta... (astaghfirullah)
.
.
Aku seharusnya kudu mengekspresikan rasa cinta kasih dan sayang yang aku miliki pada lingkup yang lebih besar, bahkan kalau bisa sampai pada lingkup semesta.. sebagai bentuk kepatuhanku atas perintah-Nya. Caranya... mbuhlah, pikir keri wae, sing pasti Gusti Allah SWT mboten sare (bhs. Jawa : tidak tahulah, dipikir nanti saja.. yang pasti Allah SWT tidak tidur), nanti pasti akan ditunjukkan jalan keluarnya. 😂

        Kalau pada part 3 ini, aku tulis karena emang aku kepikiran tentang kesehatan aja. Aku ingin sembuh, dan sebisa mungkin juga bantu orang lain agar bisa sembuh. Aku tahu semua orang saat ini bener-bener concern dengan isu kesehatan. Mencoba memberikan alternatif perspektif, bahwa sehat itu juga harus `afiyah. Saking pentingnya `afiyah, Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk berdoa sebagaimana berikut.. (Yuk kita amalkan bareng yaa 😄)
اللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ
“Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf, dan ‘afiyat di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf dan ‘afiyat pada agamaku, keluargaku dan hartaku…”. (HR, Abu Daud)

        Buat yang sekarang diberikan kesehatan oleh Allah SWT, tetaplah waspada. Jagalah diri kita dan keluarga kita kalau bisa yaa... Kita belum lepas dari pandemi Covid-19. Nggak papa cerewet soal protokol kesehatan, ini bentuk usaha kita menjaga orang-orang terdekat kita agar terhindar dari infeksi. Dan yang pasti, selalu mohon perlindungan kepada Allah SWT, agar kita dijauhkan dari marabahaya pandemi ini. Aku tahu pandemi ini pukulan berat bagi kita semua.. yuk kita nggak lupa untuk selalu berdo`a agar pandemi ini segera berakhir, dan kehidupan ummat manusia setidaknya bisa terasa lebih ringan. Bismillah, yakin bisa.


Malang, 8 Juli 2021
Langit akan cerah.. Mendung akan tersibak.. Cahaya mentari akan menyapa

Jumat, 25 Juni 2021

Di-tampol, saat Berkunjung Ke SMAN 5 Malang! (Part-2)

Secara tidak sadar meletakkan pemahaman terhadap ajaran agama, dalam posisi (yang mungkin) lebih rendah dibandingkan dengan pemahaman terhadap teori kekinian, disinilah titik yang menggelincirkan..

Hai semua, gimana kabarnya?
Hari ini saya mau ngelanjutin cerita dari postingan bagian pertama, agar bisa diambil hikmahnya (well, at least for me). Sayang rasanya kalau ada hal menarik yang terlewat begitu saja bukan?

        Perkataan Bapak yang berperawakan gahar itu masih terngiang-ngiang, tidak begitu mudah lepas dari ingatan. Kok bisa? Padahal ketemu juga baru kali itu aja. Durasinya juga tak lama. Ah, ini mungkin jawaban dari pertanyaan yang seringkali terlintas dalam kepala. Betapa baiknya Allah SWT, memberikan solusi gratis gini kepada hamba-Nya. Sambil nyetir, sambil mikir.. bismillah..

        Ada kebiasaan yang gak bisa lepas, udah nempel bertahun-tahun dalam diri.. kadang bisa bikin ngakak sendiri.. kebiasaan itu adalah berdiskusi dengan pikiran sendiri ketika berkendara, mendebat, memberikan anti-thesis terhadap setiap thesa yang diajukan, serta memunculkan alternatif pikiran. Selalu ada "what if?" dan itu seru.

        Misalnya, kalau ada sepasang remaja beda gender lagi berboncengan mesra, (kalo generasi milenial bilangnya "nyabuk") kebayang ga sih scene-nya? Pas lagi berkendara rada kencengan nih, tetiba didepan ada motor yang selauw gitu.. motornya kadang minggir, kadang rada ke tengah. Lah, saya yang kebetulan ada dibelakang mereka, suka "gatel" aja lihatnya. Nope, bukan... bukan karena iri melihat pasangan yang berasyikmasyuk diatas motor.., tapi karena mau mendahului jadi ragu. Kesenggol atau ketabrak juga ga asik, urusan jadi panjang. Nah, buat mengalihkan rasa "gatel" yang sekian detik itu seringkali saya merasa ter-challenge buat sok-sokan jadi detektif, menebak apakah mereka pasutri atau bukan dengan melihat gesture-nya. Eh, ini seru lho, dan bikin nagih gitu. Tidak melatih kita untuk julid, tapi lebih kearah mengasah keterampilan berpikir kritis.

        Kala itu, saya tidak berjumpa dengan pasangan muda-mudi yang sedang nyabuk, syukur alhamdulillah sih. Cuma rasanya yaa... ga pengen aja melewatkan kesempatan untuk julid mengolah ATP didalam sel-sel otak menjadi letupan kecil sinyal elektrik dan kimiawi. Hahahaha. Suddenly, lagi enak-enak nyengir sendiri, mata ini ga sengaja bertumbukan dengan sebuah papan penunjuk jalan berwarna hijau terang, bertuliskan "JALAN ALTERNATIF". Bisa ditebak selanjutnya, mulai deh otak ini ngadi-ngadi.. mikir.. kenapa ya kok ada istilah jalan alternatif? seperti apa bentuknya? bisa ga dikaitkan dengan fenomena yang saya alami tadi di SMA 5 Malang?

        Okay, langsung kita mulai yaa ngadi-ngadinya. Kata alternatif, berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya adalah, "pilihan diantara dua atau beberapa kemungkinan". Saya merasa ga ada ambiguitas dalam KBBI. Simple and Clear. Sementara itu, kata jalan memiliki 14 arti, saya pilih dua definisi yang menurut saya relevan dengan konteks bahasan kita, artinya "tempat untuk lalu lintas orang (kendaraan dan sebagainya)" & "perlintasan (dari suatu tempat ke tempat lain)". Jadi, hemat saya jalan alternatif bisa dimaknai sebagai beberapa kemungkinan pilihan untuk melangsungkan perlintasan dari suatu tempat ke tempat lain.

        Dari suatu tempat, ke tempat lain... kenapa kalimat tersebut membuat saya ingat tentang makna kehidupan yaa...? Dimulai dari proses kelahiran di dunia, dan diakhiri dengan masuk ke liang lahat. Ya, mirip banget sama kehidupan. Saat masih bayi, kita diberikan kesempatan minum ASI (Air Susu Ibu). Untuk bayi yang alergi sama ASI, alternatifnya minum susu formula. Rada gede dikit, kalau balita mulai ingin sekolah biasanya masuk ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), tapi ada juga yang merasa ga terlalu pengen sekolah. Begitupun juga saat TK (Taman Kanak-kanak), beberapa teman saya ada yang langsung masuk SD (Sekolah Dasar) tanpa melalui masa-masa indah TK. Beranjak ke SD, SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan SMA (Sekolah Menengah Atas) atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), mulai semakin terasa kita dituntut untuk lebih bertanggungjawab atas pilihan yang kita buat.

        Beranjak ke jenjang perkuliahan, kita semakin terfokus pada pilihan karir yang kita harapkan. Saat melamar pekerjaan, kita mencari jenis yang sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas diri. Syukur alhamdulillah jika Allah SWT mengabulkan hajat dan keinginan kita, sesuai dengan yang kita idamkan. Jika ternyata masih belum beruntung, kita masih memiliki pilihan lain untuk berwirausaha, dan justru bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Kemudian, pada fase hidup selanjutnya.. (maksud saya menikah ya.. bukan alam barzakh) saat memilih calon pendamping hidup, kita juga tidak ingin sembarangan kan? Tidaklah bisa kita berbohong pada diri sendiri, bahwa tebersit rasa ingin menjalani kehidupan dengan sosok yang terbaik, based on our version. Terus didepan si calon, pengen banget bisa ngomong, "Bismillah, aku maunya kamu.. nikah sama aku aja yuk, aku orangnya insyaAllah baik dunia akhirat, baiknya sampai ke tulang.. To the Bone, kayak lagu. Ntar barengan kita isi kehidupan dengan ibadah, siang-malam". Brrrrrr..... merinding dooong hamba... 😖Well, anyway... sadarkah kita jika sampai titik ini ternyata sudah dihadapkan dengan ratusan -atau bahkan mungkin lebih- pilihan hidup? Kemudian kita membuat keputusan penting dari berbagai alternatif yang ada, dan itu membentuk pribadi yang kita kenal sekarang, betul begitu Saudaraku?

Ilustrasi jalan tempat nenek dan si anak kecil menyeberang (Sumber: Google Maps).


        Enak-enaknya ngelamun mikir nih, tiba-tiba sekitar 25 meter dari hadapan saya ada seorang nenek dan anak kecil (kemungkinan cucu Beliau) yang melambaikan tangan, menandakan minta izin didahulukan untuk menyeberang jalan. Kaget, serta-merta saya kurangi laju kendaraan, memberikan mereka kesempatan. Lamunan saya buyar, tapi masih menyisakan senyum kecil di sudut bibir. Saya perhatikan, si anak kecil dengan telaten menggandeng lengan kiri neneknya, sama sekali tidak terlihat terburu-buru.. dia menyesuaikan kecepatan jalannya agar tidak "menyeret" sang nenek. Amboi... kejadian tersebut membuat saya memuji asma Allah SWT, indah nian akhlak anak kecil barusan. Setelah mereka sampai pada sisi seberang jalan, saya menginjak pedal gas secara perlahan.. sambil ngelanjut overthinking.

        Kita kembali ke pembahasan jalan alternatif, gapapa kan alur mikirnya loncat-loncat gini? Semoga kalian nyaman yaa bacanya. 😄 Seumur-umur, kalau sedang jalan (literally jalan atau bawa kendaraan bermotor), saya lebih suka lewat jalan utama dibandingkan dengan jalan alternatif. Alasannya, karena jalan utama biasanya berukuran lebih besar, aspalnya mulus meski hitam, bisa jalan rada ngebut, dan jarang macet. Jarang, bukan berarti tidak pernah ya... Nah, kalau macet gimana dong? Terpaksa saya memilih jalan alternatif yang biasanya jalannya lebih sempit, rute yang ditempuh lebih jauh, seringkali berlubang atau aspalnya lebih kasar, dan terkadang ditutup oleh warga lokal karena ada hajatan. Buat saya, jalan alternatif itu second choice saat jalan utama mengalami kemacetan. Hal yang kemudian membuat saya berpikir mendalam adalah.. apakah selama hidup ini, ketika kehidupan membawa saya kepada banyak pilihan, saya lebih mengutamakan segudang ilmu dan teori kekinian, serta memperlakukannya ibarat "jalan utama"? Lantas, bagaimana positioning dasar-dasar ajaran berkehidupan yang ada dalam ilmu agama, dalam kehidupan saya?

        Becermin dari kehidupan saya pribadi, ternyata ada banyak momen.. (bahkan mungkin terlalu banyak), ketika saya terlalu mengandalkan teori dan ilmu kekinian sebagai dasar utama pengambilan keputusan. Apakah sikap saya salah? Tentu tidak, tidak sepenuhnya. Kesalahan yang dikemudian hari saya sadari setelah melalui fase panjang kontemplasi adalah.., secara tidak sadar meletakkan pemahaman terhadap ajaran agama, dalam posisi (yang mungkin) lebih rendah dibandingkan dengan pemahaman terhadap teori kekinian, disinilah titik yang menggelincirkan. Okay kita coba masuk lebih dalam ya.. 

        Jika hidup adalah perjalanan dan banyak sekali cabang dan persimpangan yang kita temui dalam menempuh prosesnya, maka kita perlu menghadirkan pikiran sadar.. sadar untuk mampu mengidentifikasi manakah jalan alternatif, dan manakah jalan utama. Jika kita sudah bersaksi bahwa Islam adalah jalan hidup (The Way of Life), maka pada praktiknya.. apakah tepat kita memperlakukan ajaran agama Islam sebagai second choice, alternatif pilihan kedua yang secara hirarki lebih rendah dibanding ilmu & teori kekinian? 

        Ingat nggak, kalau kita ternyata udah sering banget menyampaikan kalimat ikrar.. bahwa sholat, ibadah, qurban, hidup, dan mati kita.. semuanya hanya untuk Allah SWT semata, Tuhan penguasa alam semesta raya (Al-An`am : 162). Seandainya kita ngerasa iman kita rada-rada goyah, bukannya Allah SWT juga dengan lembutnya sudah memberikan kita pengingat.. bahwa selama kita masih berpegangteguh dalam ajaran Islam, maka kita sesungguhnya berada di jalan yang lurus, still- keep on the track (Az-Zukhruf : 43). Kalau masih muncul aja tuh keraguan dalam hati, gimana dong? Coba simak awal surat Al-Baqarah, tegas disampaikan bahwa Al-Qur`an itu tidak ada keraguan didalamnya.. isinya adalah petunjuk bagi yang bertakwa. Sampai disini, saya merasa tidak selayaknya menempatkan ilmu-ilmu yang ada dalam ajaran Islam dalam pilihan kedua. Sikap yang kemudian saya pilih, maka saya akan menganggap Islam ibarat pohon.. bagian akarnya adalah rukun iman & rukun Islam,  batang pokoknya adalah ilmu-ilmu dalam ajaran agama Islam, bagian dahannya adalah ilmu & teori kekinian, serta daun-bunga-buah adalah bentuk kontribusi muslim bagi dunia. Membiarkan dahan terpisah dari batang pokok bisa mengakibatkan kematian.. tidak hanya pada dahan, tapi juga daun, bunga, dan buah. 

        Nggak terasa sudah dekat tujuan, dari jauh terlihat pepohonan rimbun yang ada di halaman depan rumah. Saya menyunggingkan senyum, sambil menikmati kerandoman yang baru saja selesai saya alami. Sebelum memarkirkan kendaraan, saya coba me-review ulang apa yang saya dapatkan disepanjang perjalanan menuju rumah. Berikut ini ringkasannya: 1) harus secara sadar bisa memutuskan serta bertanggungjawab terhadap pilihan hidup, 2) selalu merujuk kepada ajaran agama Islam saat mengambil keputusan, 3) tidak menempatkan ajaran Islam dalam posisi yang lebih rendah dibanding dengan ilmu & teori kekinian, 4) terus semangat mencari ilmu dari para ulama` dan habaib yang lurus, 5) melatih diri agar memiliki akhlak terpuji. Alhamdulillah.. 

        Turun dari kendaraan, langsung ke kamar mandi. Bersih diri sekaligus ganti baju, sebagai bentuk tindakan preventif terhadap paparan virus Covid-19. Gapapa ribet, yang penting sehat. Kali ini saya cukupkan sampai disini dulu yaa.. next time kita lanjutkan lagi ceritanya. 

Malang, 2 Juni 2021
Akhirnya saya sampai di rumah.. Langit masih mendung.. Rintik gerimis mulai turun..


Jumat, 04 Juni 2021

Di-tampol, saat Berkunjung Ke SMAN 5 Malang! (Part 1)

Kamu masih perlu belajar lagi rupanya, kalau kamu tidak bisa menghargai dirimu sendiri.. kenapa saya harus menghargaimu?

     
Tampak depan SMAN 5 Malang (sumber: http://sekolah.data.kemdikbud.go.id/)

        Siang itu saya punya janji dengan seorang teman, ingin belajar tentang seluk-beluk vermes. Pukul 12.35 WIB, sampai di SMAN 5 Malang. Masuk melalui gerbang depan, langkah saya dihentikan oleh lambaian tangan security sekolah. Saya sampaikan kepada Beliau, bahwa saya punya janji dengan Pak W. Miora, motor mio merah kesayangan, saya parkirkan di sebelah barat pos keamanan. Tidak lama berselang, muncul sosok tambun dan berkulit gelap, sebut saja Pak W. Pak W lantas mengajak saya memasuki gedung sekolah.

Pohon Tabebuia chrysotricha yang sedang berbunga
(sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Handroanthus_chrysotrichus)

        Sedikit gambaran tentang SMAN 5 Malang yaa, sekolah ini nuansanya hijau, banyak taman dan tanaman. Bagian luar sekolah dikelilingi oleh pohon Tabebuia chrysotricha, dikenal juga sebagai pohon terompet emas. Jika tiba masa berbunga, hampir seluruh bagian pohon akan dihiasi oleh warna kuning. Bagian dalamnya, ada lapangan basket untuk menyalurkan bakat dan penat. Hahaha. Kebetulan saya tidak berkesempatan untuk tour, jadi hanya sekelumit saja bagian sekolah yang bisa saya ceritakan. Kita berdua, Pak W dan saya, kemudian duduk didepan ruang guru. Semilir angin dan suara gemericik air terjun buatan yang muasalnya dari kolam ikan, menemani obrolan kami.

        Pak W, saat itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Sembari duduk bersandar, kaki kanannya ditumpangkan pada kaki kiri (lungguh jegang bhs. Jawa red.) dia membenahi lekukan pada celananya, agar duduknya makin nyaman.

"Kamu mau tahu apa, Bro..?", Pak W membuka perbincangan.
"Saya ingin belajar dari njenengan, Pak. Saya udah kepo-kepo kemarin, cari tahu gambaran besarnya. Tapi, saya ingin belajar hal teknisnya dari njenengan".

        Hampir 4 tahun kita berteman, Pak W paham benar, diksi-artikulasi-intonasi yang saya sampaikan menyiratkan keseriusan. Kurang lebih 40 menit kami berbincang asyik, salah seorang rekan kerja Pak W mendekati kami. Lelaki yang berjalan ke arah kami berusia diatas 55 tahun, rambut tipis jarang ada, sorot mata masih menyala. Kumis cukup lebat, coklat-hitam-putih warnanya. Postur tubuh, gempal. Tangan seperti umbi singkong mukibat, besar dan berurat. "Sebentar.., orang ini.. iya, orang ini cukup `berbahaya`!", first-impression yang absurd. Noted. Si Bapak mengantongi kedua tangan kedalam saku celana.

"Walah... ngobrolin apa ini?, hati-hati kalau kumpul sama Pak W, bisa ketularan Pak W nanti!", Beliau sambil menudingkan jemarinya kearah Pak W. Terlihat serius memang, tapi saya tahu Beliau hanya bermaksud melontarkan candaan saja.
"Ah... saya kan rakyat biasa memang, Pak.. Beda dengan njenengan yang secara kasta berada di langit", Pak W menimpali dengan candaan pula, tapi dari gesture-nya saya tahu kalau dia sedang tak nyaman.

Merasa iba dengan Pak W, saya bermaksud ikut berempati dengan mengatakan, "Sama kok Pak W, saya juga rakyat jelata... yang nggak mampu dan ga punya apa-apa". Menariknya, ada nuansa yang berubah seketika. Mimik wajah si Bapak mendadak menjadi keras, intonasinya lebih tinggi, entah berapa oktaf.

"Wah, nggak boleh gitu, Mas! Kamu masih perlu belajar lagi rupanya, kalau kamu tidak bisa menghargai dirimu sendiri.. kenapa saya harus menghargaimu?... Padahal, satu-satunya yang diharapkan paling bisa memberikan penghargaan dan penghormatan kepada diri pribadi, ya diri sendiri".
        
        Ucapan dari Bapak itu, menancap dalam hati saya. Benar adanya, jika penghormatan terhadap diri ini rasanya jauh berkurang.. (self-respect, self-esteem, self-confidence, sejenis dan serumpun dengan istilah itu). Mungkin saja hal tersebut tercermin keluar, sehingga tampak dan bisa dilihat oleh mereka yang memang peka.... dan mau memahami.

        Ucapan dari Bapak -belakangan saya mengetahui namanya Beliau-, memang nampol banget. Pedas, panas, tapi justru itu yang membuat saya respect ke Beliau. Ucapannya disampaikan saat momennya tepat, dan apa yang Beliau sampaikan sangat terukur. Ucapan bisa jadi senjata yang mematikan, atau sebaliknya.. mantra yang membangkitkan. Sepanjang perjalanan menuju rumah menjadi momen yang pas untuk muhasabah.

Lanjutan ceritanya akan saya sampaikan pekan depan yaa..
InsyaAllah, jika Allah SWT mengizinkan, akan saya sampaikan poin yang memiliki korelasi erat dengan tuntunan yang telah Allah SWT berikan.
Malang, 2 Juni 2021
Langit saat itu kelabu, sementara rintik hujan enggan turun... terpantau masih malu-malu..

PERUBAHAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (Bagian 1) ---MATERI KELAS X SEMESTER GENAP--- KURIKULUM MERDEKA

 ----  KEGIATAN AWAL PEMBELAJARAN  ---- 📌  Note  : Pernahkah kalian mengamati sawah yang berada disekeliling sekolah? Bagaimana kondisi saw...