Tampilkan postingan dengan label His-Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label His-Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Agustus 2021

Cinta dan Senyawanya... (?) [Part 3]

Foto Prof. Amin dan Istri. Sewaktu melangsungkan perjalanan ke Tokyo,
Prof. Amin share foto ini kepada kami.. agar bisa jadi motivasi katanya.
(Sumber : Dokumentasi Pribadi)



#Estimasi durasi baca : 10 menitan kalau lagi nggak konsentrasi
#Rekomendasi waktu baca : Jangan dibaca sebelum tidur, baper tidak ditanggung oleh BPJS


Intro

        Hallo, sangat membahagiakan bisa berjumpa lagi dengan kamu. Kamu dalam keadaan sehat wal `afiyah kan? Please don`t make me worry to much about you, okay? In real life, it`s rather awkward for me to ask such things to you. But actually, I care a lot about you. 

----- (Playlist : Location Unknown - Honne ft. BEKA)
        Ngomong-ngomong, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan terus diperpanjang, hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.. Hanya Allah SWT yang tahu kapan selesainya PPKM di Indonesia. Sinyalemennya udah disampaikan oleh salah seorang pembantu Presiden Republik Indonesia beberapa hari yang lalu (klik disini untuk sumber bacaan).

        Sejujurnya perpanjangan PPKM bukanlah hal yang mengagetkan (at least for myself). Tetapi, sebagian kecil dari diriku percaya pada announcement resmi pemerintah terkait waktu berakhirnya PPKM, dan jujur aja ngarep kalau PPKM ga akan diperpanjang. Yeah,.... apapun keputusannya.. sebagai rakyat Indonesia yang baik, kita perlu menghargai kebijakan dari pemimpin kita. Aku yakin kamu dan aku bisa kok.

        Mumpung masih dalam sesi intro nih ya, tahu gak sih aku beberapa hari ini merasa sedikit resah..? Bukannya bermaksud berbagi keresahan dengan kamu, no.. I won`t do that, resahnya cukup buat aku sendiri... kalau sama kamu, aku cuma ingin berbagi kebahagiaan. 

----- (Playlist : Seperti Rahim Ibu - Efek Rumah Kaca)
        Well, dibandingkan dengan tahun kemarin, 17 Agustus pada tahun ini (2021) punya nuansa yang istimewa. Aku dapat banyak banget cerita dan curhatan dari temen-temenku, tentang betapa tahun ini sangat luar biasa. Ada yang sedang diuji finansialnya, ada yang ngalamin character assassination, ada yang mati-matian melawan kesendirian/kesepian karena terpaksa stay alone at home, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang struggle buat self-healing, ada yang kehilangan orang terkasih.... ah, banyak sekali... 

        Hal yang bisa aku lakukan untuk temen-temenku adalah menjadi pendengar yang baik, memberi respon yang baik, memberikan nasihat (hanya) saat diminta, dan sebisa mungkin ignite their hope. Cukup Allah SWT yang tahu, betapa kalian berusaha bangkit... yakin deh, Allah SWT punya rencana terbaik untuk kita semua. 

        Aku ingin menjabat erat tangan kalian, menepuk pundak kalian, sambil berkata.., "Aku bangga kenal kamu, kamu hebat.. I know you`ve been struggling to makes things right. Tetap ikhtiar sambil tawakkal. Kalau lelah istirahatlah.. usah khawatir, Allah SWT akan memberikan jalan keluar.., dari arah yang tidak disangka-sangka".

        Anyway, kamu sepertinya cukup rutin mengecek informasi yang beredar di sosmed belakangan ini ya? Banyak banget berita tentang filantropi. Gerakan rakyat bantu rakyat semakin terstruktur, masif, dan sistematis. Sering ngerasa kagum dengan mereka yang punya jiwa altruisme. Sementara itu berkaca pada diriku sendiri.., ternyata yang bisa aku lakuin masih terbatas, dan masih belum memungkinkan terjun langsung ke lapangan. So, let`s do our part, aku akan coba edukasi dan menghibur mereka melalui media daring. Dan kamu...., aku yakin kamu punya porsimu sendiri dalam berkontribusi. 😉
----- Sebagai bentuk kontribusiku, aku akan coba nulis sesuatu..

        Pada kesempatan kali ini aku masih akan membahas tentang cinta dan senyawanya. Beberapa waktu yang lalu aku berkutat dengan literatur barat, it was pretty much heavy on my brain. Mereka menitikberatkan pembahasan tentang cinta, melalui metode berpikir ilmiah. 
----- Buat aku yang baperan dan terlalu mengandalkan hati (especially when we talk about love), bacain hasil penelitian mereka tuh ternyata bisa bikin mataku terbuka. 😲. Tentunya aku juga menyampaikan terimakasih tak terhingga untuk sumber inspirasi tulisan ini, (alm.) Prof. Amin, thanks a lot for guiding me `till this point. Bismillah.


Cinta dapat Dikategorikan Menjadi Tiga Bagian

        Kamu ingat nggak? Pada part 2 kemarin, aku ceritain tentang fase perasaan cinta? Kalau kamu belum baca, please take your time untuk menikmati part 2 terlebih dahulu. Nggak perlu terburu-buru. Dan kalau kamu udah baca, alhamdulillah.. 😊 Aku seneng aja rasanya kalau kamu udah baca. Se-simple itu aku. 
.
.

FYI, Dr. Helen Fisher punya background sebagai anthropologist,
orang yang punya passion mengamati dan meneliti manusia serta pola berkehidupannya.
(Sumber : courtesy of 
https://www.ted.com/talks/helen_fisher_why_we_love_why_we_cheat?language=pt)


Aku lanjutin.
        Standing applause buat Dr. Helen Fisher dan tim yang telah bikin artikel ilmiah tentang cinta.  One day, tim risetnya punya sebuah pertanyaan tentang fenomena sosial yang ada disekeliling mereka. Aku kutip dalam bahasa aslinya yaa, kamu bacanya nggak usah terkedjoed.
----- Aku berikan disclaimer dulu, penelitian ini bermula dari hasil pengamatan terhadap kultur yang berkembang diluar negeri. Beda negara, beda kultur. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.

One of her central ideas is that romantic love is a drive that is stronger than the sex drive. As she has said, "After all, if you casually ask someone to go to bed with you and they refuse, you don't slip into a depression, commit suicide or homicide -- but around the world people suffer terribly from romantic rejection." - Helen Fisher

 

        Boljug (boleh juga) nih gagasan dan landasan berpikir Beliau. Konsepan awal dari gagasannya kalau diterjemahkan secara bebas adalah sebagai berikut: "Kira-kira faktor mana yang punya pengaruh lebih kuat dalam suatu hubungan spesial antar manusia? Faktor kemurnian dan romantisme cinta? Atau faktor dorongan untuk melakukan hubungan seksual?". Yeah, I know, meskipun ada bagian yang sengaja nggak aku terjemahkan.. tapi kamu bisa tetap nangkep artinya kan?

Ini nih mesin fMRI-nya, se-gedhe gaban ya ternyata. Orang yang diperiksa
nanti akan rebahan dulu tempat yang mirip ranjang itu,
next, dia akan masuk pelan-pelan ke dalam semacam
silinder berukuran besar yang didalamnya kelihatan bersinar terang.
(Sumber : courtesy of 
https://pbs.dartmouth.edu/sites/department_psychological_brain_sciences)

        
        Bicara soal instrumen dan metode, aku berikan sedikit gambaran tentang apa yang mereka lakukan. Penelitian mereka pake alat yang namanya functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI). After that, mereka ngelakuin scanning otak kepada 49 pasangan pria dan wanita. Nah, dari 49 pasangan tadi dapat diidentifikasi.. sebanyak 17 pasangan sedang madly fallen in love, kasmaran pol-polan, bucin tingkat dewa; 15 pasangan baru aja putus dan dicampakkan (semoga udah pernah vaksinasi campak, seegaknya biar hati mereka lebih kuat saat dicampakkan) 😔😔😔😔; dan sisanya adalah 17 pasangan yang sukses menjalani bahtera rumah tangga dengan rerata usia pernikahan 20 tahunan.

        Hasilnya..., perasaan cinta dapat di-breakdown jadi tiga kategori. Lust. Attraction. Attachment. Pada setiap kategorinya, ada bagian otak dan hormon yang secara dominan mengambil peranan. 
----- hmm, menarik sekali hasil penelitiannya.


Mengetahui tentang "Lust", Memaknai "Attraction", dan Memahami "Attachment"

        Sebenernya lust, attraction, dan attachment itu apa sih? Oke, aku coba jelasin ke kamu..
Lust, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan "nafsu, gairah, yang berhubungan dengan syahwat". Birahi. 

        Attraction, bisa dimaknai sebagai rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Contohnya...., kamu ingat betul caranya tersenyum, tatapan matanya yang dalam, warna matanya, aroma parfumnya, jokes receh yang secara random dia ucapkan (meskipun seringkali garing, tapi toh kamu tetap berusaha tertawa), serta tingkahnya yang gemes-gemes cute... all about him/her make you attracted. Ketertarikan ini sifatnya bisa resiprokal (you were lucky enough to get his/her attention), bisa juga sepihak... bertepuk sebelah tangan. 
----- Pernah ngerasain fallin in love with someone you can`t have? Kalau kamu pernah ngerasain, tenang aja... kamu nggak sendirian kok. 

        Bagaimana dengan attachment..? Ini yang agak susah dideskripsikan dengan kata. Attach bisa aja dipahami secara sederhana dengan kata nempel, terikat, atau tertambat. Untuk orang-orang yang nggak terlalu ekspresif, perasaan "attach" lebih mudah ditangkap melalui hal-hal yang tersirat... bukan tersurat. 
----- Gini aja deh, aku akan berikan contoh yang sifatnya umum. Kamu pasti pernah dengar kisah cinta Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Besari, kan? 

Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun Besari, semasa muda.
(Sumber : courtesy of https://www.jawapos.com/nasional/11/09/2019/)

.
.
.
Dalam suatu sesi wawancara dengan Najwa Shihab, Eyang Habibie pernah berkata.. 

"...Saat Ibu Ainun berpulang, jiwa saya itu.. setengahnya tidak ada, kosong... itu disebabkan karena Ibu Ainun dan saya, 48 tahun dan 10 hari.. tidak pernah berpisah...".

Terjeda sejenak, Eyang Habibie kemudian melanjutkan..

"Tapi saya..., yakin, bahwa Ibu (Ainun) itu ada didalam hati saya sendiri,
seperti Ibu (Ainun).. dimanapun dia berada.., saya doakan disisi Allah SWT, di alam barzakh, jiwa saya ada didalam. Menyatu, dengan Ibu Ainun". 

Terlihat Beliau menekan rasa rindu yang teramat sangat, dan menyambung kalimatnya..

"Saya bisa menutup mata saya, yang saya lihat.. tiap sudut, dari memori dan mata saya..
yang saya lihat adalah wajah dan senyuman Ibu (Ainun). Dan saya yakin Ibu (Ainun) juga, dimanapun ia berada, mengalami ini juga".

Air matanya tertahan..

"Saya tidak sangka, bahwa hubungan antara dua manusia insan.., adalah demikian dahsyatnya.. dan... indah... Tapi, perih..".

Matanya berkaca-kaca..

"Tiap kali saya rindukan, dan memikirkan.., bertanya dimana dia (Ibu Ainun). Dan saya doakan, pada tiap doa, saya sampaikan.. apa yang ditentukan oleh Allah SWT itu adalah yang terbaik untuk kita". (Klik disini untuk sumber tautan video). 
.
.
.
        So, now..? Kamu udah kebayang makna dari masing-masing kata lust, attraction, dan attachment, kan? 

        Tahu secara verbal tentang sebuah makna kata, akan terdengar kurang sempurna tanpa ikut mengelaborasikan elemen rasa dan karsa didalamnya. Dan aku ngerasa dapet banget elemen rasa dan karsa dari apa yang Eyang Habibie sampaikan... It was, breathtaking.. 

        Jeda perlu aku ambil, aku ngerasa "penuh", dengan informasi yang aku dapat barusan... Bahasan kali ini perlu untuk dicukupkan terlebih dahulu, ya...? Gapapa, kan..?. Biar semuanya mengendap dulu, sebelum akhirnya bisa dinikmati, seperti secangkir kopi. 

        Sebelum bener-bener aku tutup sesi kali ini, please highlight kalimat berikut yaa.. Kunci memahami perasaan cinta, adalah bisa membedakan derivat-derivatnya. Jatuh cinta dan memaknai cinta adalah dua hal yang berbeda. Oh, tentu..., membutuhkan proses yang tidak mudah untuk memaknai cinta.

        Nantinya aku akan coba cari informasi tentang cinta dari poin of view-nya Islam. Harapanku, pelan-pelan nanti kamu bisa secara holistic and balance memahami apa itu cinta. Kamu bisa mencari sumber bacaan pembanding, agar apa yang kamu dapat bisa semakin banyak dan barokah.

Sampai jumpa disesi curhat nulis berikutnya!! 😁
.
.
.
Malang, 21 Agustus 2021
Langit keliatan cerah, aku ngerasa seneng banget lihatnya...





For Future Reference :

Fisher, Helen (2004). Why We Love – the Nature and Chemistry of Romantic Love. Henry Holt and Company. ISBN 0-8050-6913-5.

"Love, The Thing Called Love – National Geographic Magazine". Ngm.nationalgeographic.com. Retrieved December 2, 2014.

Senin, 16 Agustus 2021

Cinta dan Senyawanya... (?) [Part 2]

View dari sebuah kafe yang berada di Kota Malang, namanya Kopi Pisan.
Kalau kamu main kesini, coba luangkan waktu saat menjelang maghrib sampai malam hari.
Ngelihat lalu lalang kendaraan dan hilir mudik orang, ga tahu kenapa bikin perasaan nyaman.
(Sumber : Dokumentasi Pribadi).



#Estimasi durasi baca : 3-4 menit
#Rekomendasi waktu baca : Sebelum tidur, jadi pilihan yang tepat untuk membaca tulisan pendek ini.

        Hai!! Senang ketemu dengan kamu lagi, meskipun hanya lewat blog. Ingin banget ketemu langsung dengan kamu, tapi ingat sekarang masih pandemi. Bisa aja aku adalah orang tanpa gejala (OTG) yang sebenernya jadi carrier virus, tapi masih keliatan sehat aja.. terus sehabis ketemuan, malah kamunya yang sakit. Tentu aku ga mau seperti itu.

        Well, baru nyadar beberapa postingan ke belakang.. ternyata aku masih belum konsisten memilih antara penggunaan diksi "aku" dan "saya". Kalau pilih "saya", kesannya formal banget, kayak mau nyalonin diri buat pemilu aja ya.. (tanpa perlu bawa-bawa sayap atau kebhinekaan). 

        On the other hand, kalau pilih "aku".. kesannya jadi kasual dan santai. Ah... wait, denger-denger di wilayah ibu kota, panggilan "aku - kamu" itu menunjukkan hubungan spesial ya? Bener ga sih? 😁
----- Oke, kalau gitu aku bakal pilih "kamu" aja (hloooo eh.. 😅). Nope, bercanda... aku akan pilih pake "aku" aja. Biar antara aku dan kamu (pembaca) bisa terbangun hubungan emosional yang spesial... dan sifatnya resiprokal. 
I hope so. 

----- (Playlist : Liar Angin - Feby Putri)
        Ngomongin hubungan spesial antara dua insan beda gender nih.. tema-nya ga jauh dari apa yang aku tulis kemarin. Kali ini, Cinta dan Senyawanya - Part 2, akan mulai dengan sedikit cerita tentang isi tulisan Beliau. Jujur, aku mau take my time untuk ceritain ini semua. Aku ingin banget menikmati prosesnya. Ditulisan ini, aku juga ingin dengan sesadar-sadarnya melibatkan akal dan qalbu. Menerima semuanya as it is.. and sometimes you just need to let it flow, after you wade through swift current in your life.  
.
.
Bismillah, biar barokah..
        Let`s get back to the topic, masih ingat kemarin di part-1 kita ngobrolin apa sepanjang perjalanan ke Pacitan? Yuhu... bener banget, kita ngobrolin tulisan (alm.) Prof. Amin, isinya tentang cinta. Beliau nulisnya singkat, nggak panjang.. dibaca sekitar 4 menit aja insyaAllah kita akan paham isinya.
----- Sering iri sama orang jenius, Allah SWT berikan kelebihan untuk menyederhanakan hal kompleks menjadi lebih sederhana, to the point, dan bikin orang yang baca/ndengerin jadi mudah paham. 

        Isi tulisannya bisa dibagi jadi tiga bagian. Bagian pertama ngasih prakonsepsi.. semacam penggambaran skenario ketika awal jatuh cinta, sedang jatuh cinta, dan mempertahankan cinta. Dibagian awal banget ini, kamu akan diajak mengingat, gimana sih deg-degannya jantung sewaktu pertama ketemu sama sosok someone. Kata orang luar negeri, rasanya macam ada butterflies in your stomach. Campur aduk antara seneng (buangeetttt), ndredeg (bhs. Jawa : jantung berdegup kencang), dan gugup jadi satu. You did silly things in front of him/her, unconsciously..

        Saat dalam fase awal jatuh cinta, which is kamu sudah ketemu beberapa kali dengan someone yaa maksudnya, kamu bakal ngerasa berbunga-bunga. Bahagia banget kalau ketemu, rindu banget banget banget kalau terpisah oleh jarak & waktu (apalagi terpisah oleh takdir), dan ujungnya jadi berasa sedih..., mellow. Kamu intoxicated dengan perasaan cintamu, ga doyan makan, dan susah tidur. Pernah? 

        Seiring berjalannya waktu, perasaan deg-degan kalau ketemu bakal mulai pudar. Kamu udah mulai terbiasa sama dia. Kalau ketemu masih tetap menyenangkan, everything`s seems goin on smoothly. Beberapa kali terjadi kesalahpahaman, and it`s okay, kamu dan dia bisa melewatinya dengan sukses. Ternyata kupu-kupu yang menggelitik di perutmu sudah terbang entah kemana, kamu udah gak ngerasain sensasi seperti itu lagi, yang ada... kamu ngerasa lebih kalem dan nyaman aja saat tahu dia ada didekatmu. Lantas dirimu mengambil kesimpulan secara sadar, kalau kamu ga mau kehilangan dia. Pernah?

        Selanjutnya.., pada bagian kedua, bagian isi... Beliau menjelaskan fenomena dan sensasi yang kamu dan aku rasakan adalah bentuk metabolisme tubuh. Semuanya ga lepas dari peranan hormon, neurotransmitter, dan segala reaksi yang kebanyakan terjadi didalam otak. Menarik banget, reaksinya terjadi di otak... tapi kenapa kok jadi hatinya yang ngerasa baper ya. Hahahaha. 😂 Lucu sekali, Saudara-saudara!

        Bagian terakhir, Beliau kemudian memberikan semacam kesimpulan.. kalau ternyata kamu, aku, dan kita semua sebagai manusia ga punya kuasa penuh.. bahkan untuk mengatur hati dan perasaan. Senantiasa memohon kepada Allah SWT agar hati ini ditautkan pada jalan-Nya.. adalah hal yang sangat tepat. Beliau beneran banget ngingetin ini. Ada doa yang kemudian Beliau sisipkan, doa ini diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, begini doanya...

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
(Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik)
Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)
.
.
.
        Throw back, obrolan tentang tulisan itu kemudian Beliau tutup dengan pesan.. bahwa kami semua tetap harus mencari informasi yang lebih komprehensif. Tidak boleh hanya mengandalkan satu rujukan saja untuk memahami sebuah ilmu. Jadi jika kami masih ingin memahami isi tulisan Beliau, sangat disarankan untuk menguatkan lagi pemahaman materi biologi sel molekuler, fisiologi manusia, anatomi, bahkan tidak boleh segan untuk belajar lintas ilmu. Ambil contoh, bioinformatika, neuropsikologi, and so on...

----- (Playlist : Orange - 7!!)
        Saat itu aku ngerasa belum ketemu urgensinya untuk mencari informasi lebih dalam. Tapi setelah dipikir-pikir, ada baiknya aku memahami tentang apa itu cinta. 
----- Eh, tapi for your information, tulisan ini ga ada kaitannya dengan fenomena kembali maraknya lagu dari Negeri Ginseng yang berjudul "What is Love?" 😅 Hahaha.

        Menurutku tulisan ini penting, setidaknya buat aku sendiri, pertama.. karena merupakan wujud refleksi diri. Kedua, aku ingin me-record apa yang telah disampaikan oleh Gurunda melalui tulisan dan lisan Beliau.. agar bisa menjadi amal jariyah untuk Beliau setiap kali ada yang mendapatkan insight baru dari tulisan ini. Kalau kamu baca tulisan ini, dan kamu ngerasa dapat khazanah baru tentang cinta.. alhamdulillah.

        Untuk saat ini, aku masih menghimpun informasi dari beberapa sumber. Masih bener-bener butuh belajar, dan menikmati prosesnya. Sepertinya aku cukupkan dulu tulisannya, karena khawatir nanti kalau diterusin jadi kecampur dengan curcol-an. Anyway, aku berharap banget kamu bisa sabar menunggu untuk part berikutnya. See you!
.
.
Malang, 16 Agustus 2021
PPKM yang diperpanjang berkali-kali, pada hari ini berakhir. Semoga ga bakal diperpanjang lagi. 




Rabu, 07 Juli 2021

[After Story] Di-tampol, saat Berkunjung Ke SMAN 5 Malang! (Part-3 END)

 

Tidak apa, semua akan baik saja. Betapa Allah SWT menyayangi hamba-Nya, serta kemudian menunjukkannya dengan cara istimewa.

     
          Dedaunan berserak diatas tanah. Selembar daun yang jatuh pun,
bahkan tidak terlepas dari pengawasan Allah SWT. Lokasi pengambilan foto
       di area PUSLATPUR (Pusat Latihan Tempur) Purboyo, Kab. Malang. 
(Sumber : Dokumentasi pribadi).


#Estimasi durasi baca : 15-20 menit
#Rekomendasi waktu baca : ba`da Shubuh atau sebelum tidur
        
        Hai! Senang rasanya bisa menyapa pembaca blog ini 😊
        Gimana kabar kamu hari ini? Aku beneran berharap kamu dan orang-orang tersayangmu tetap sehat selama masa pandemi. Sehat lahir maupun batin. 😊

        Belum sampai satu minggu yang lalu masyarakat Indonesia mendapat kabar kurang menyenangkan, angka penderita Covid-19 mencapai angka infeksi harian tertinggi. Bayangkan,.. hanya dalam satu hari saja, ada dua puluh ribuan lebih pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Pemerintah Indonesia kemudian merespon dengan menginstruksikan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) untuk wilayah Pulau Jawa dan Bali.

        Mulai dari tanggal 3-20 Juli 2021, ada beberapa aturan yang harus kita taati. Tentu aturan tersebut dibuat untuk kebaikan kita bersama, aku yakin pemerintah sudah mikir banyak hal, mengkaji, menimbang, dan akhirnya memutuskan buat PPKM. Kalau kamu ingin informasi lebih lengkap, bisa disimak pada tautan ini yaa (klik disini).

        Sekarang kita masuk ke sharing session. Bismillah.. Pernah nggak kamu gelibukan di kasur karena ngerasa udah ngantuk, capek, being overwhelmed, memaksa mata untuk terpejam tapi pada akhirnya harus melek lagi? Well,.. terhitung sudah delapan purnama, aku mengalaminya. Selain aktivitas rutin yang alhamdulillah banget bisa dilakuin tiap hari, sisa energi tubuh aku konversikan ke kegiatan nulis, ngegambar, masak, belajar desain, fotografi, dan banyak kegiatan lain yang sekiranya bikin exhausted. Harapannya sederhana aja sih, biar malem bisa tidur nyenyak dan berkualitas.

        Salah satu perubahan yang muncul akibat seringnya insomnia adalah.. mata panda dan tekanan darah yang cenderung rendah. Sistol selalu dibawah 110 mmHg, dan diastol dibawah 70 mmHg. Mata panda terkadang masih bisa disembunyiin pake kacamata. Gegara seringnya darah rendah, gerak dan respon tubuh rasanya jadi ga selincah dulu. Terus ada lagi, badan jadi sering pegel sewaktu diajakin aktivitas berat, ujung-ujungnya tepar dong... But wait, bukan berarti aku kurang bersyukur yaa, justru bisa mengenali perubahan dalam diri termasuk salah satu bentuk syukur kepada Allah SWT. Kalau bisa tahu apa yang berubah, kita bisa perbaiki sedini mungkin, kan?

        Sehat menjadi prioritas utama, apalagi pas pandemi gini. Gimana caranya deh, yang penting sehat lahir batin. Aku jadi ingat sama kalimat ini, "Mens sana in corpore sano", yang berasal dari bahasa Latin dan udah dikenal oleh khalayak luas. Artinya adalah pikiran sehat berada dalam tubuh yang sehat. Kalau ingin pikiran sehat, berarti tubuh juga kudu sehat? Ataukah karena pikiran yang sehat, tubuh jadi ikut sehat pula? Terlepas dari bagaimana pemaknaannya, kita coba kulik beberapa hal seputar nikmat "sehat" aja, yuk!

1. Sehat menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
        Sehat, menurut KBBI adalah, "baik seluruh badan dan bagian-bagiannya (bebas dari sakit); waras". Jadi kita bisa memahami, hematnya.. sehat adalah keadaan tubuh saat nggak sakit. Langsung kebayang, orang-orang dengan tubuh macam pesepakbola Christiano Ronaldo dengan kadar lemak tubuh sekitar 7%, jadi sosok ideal yg representatif terhadap kata sehat. Kalau sosok Indonesia, aku jadi keingat sama Iko Uwais, Yayan Ruhian, Joe Taslim, Sandiaga Uno, Max Metino, dan banyak lagi yang terkenal dengan persona fit-nya.

2. Pernah dengar istilah "Sehat wal `afiyah"? Apa maknanya?
        Aku sering banget denger istilah ini, apalagi saat tergabung dalam grup Whatsapp atau platform sosmed lainnya, yang anggotanya kebanyakan orang-orang sepuh (bhs. Jawa: tua). Jadi kepikir artinya sehat wal`afiyah itu sebenernya apa yaa..?

الصِّحَّةُ
dalam kamus bahasa arab artinya nggak jauh beda dengan KBBI.

kalau الْعَافِيَةُ
dalam kamus bahasa arab artinya adalah "sehat sejahtera". Bisa juga dimaknai gini.., dalam terminologi Islam, artinya adalah "perlindungan dan kekuatan yang diberikan oleh Allah SWT terhadap hamba-Nya, sehingga terhindar dari penyakit dan bencana di dunia maupun akhirat".
        
        Kalau mau dipahami secara simpel (karena aku suka yang simpel 😅), sehat wal`afiyah adalah keadaan tubuh yang kuat dan terbebas dari penyakit, bencana, tipu daya, diberikan kekuatan untuk tetap berpegang teguh terhadap ajaran Islam, serta mendapatkan perlindungan dari Allah SWT sehingga kita selamat dunia dan akhirat.

        Bisa aja seseorang itu sehat, tetapi nggak `afiyah.. karena tubuhnya (meskipun sangat mampu dan kuat) nggak mau diajakin untuk beribadah kepada Allah SWT. Okay, noted.

3. Antonim untuk kata sehat adalah...? Yep, sakit...
        Kita buka lagi KBBI yaa, nggak boleh bosen buka KBBI pokoknya, biar kita nggak perlu terjebak dalam kebingungan antara diksi pulang kampung dan mudik. Sorry jadinya out of topic. Well, aku nemuin kata sakit dapat diartikan sebagai, "berasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu". Jadi jelas banget, kalau dalam KBBI kata "sakit" itu erat hubungannya dengan fisik, sementara kalau sakit pada non-fisik aku belum nemuin istilah khususnya. Ntar kalau kalian nemu kasih tahu aku yaa. 🙏😁   

4. Sekarang, kita coba belajar bahasa Arab dikit.. masih tentang sakit dan penyakit
        By the way, pada poin bahasan keempat ini, aku akan coba sarikan dari apa yang pernah Ustadz Adi Hidayat sampaikan. Beliau pernah membahas secara khusus tentang sakit dan obat/penawar. Yuk baca basmalah dulu sebelum memulai bahasan ini, agar semakin barokah.         
        Firstly, kita akan coba memahami diksi sakit dalam bahasa Arab. Ternyata ada dua (setidaknya itu yang aku tahu) padanan kata sakit, jika kita mencarinya dalam bahasa Arab.

(a) دَاء , apabila sakitnya berhubungan dengan penyakit fisik. Misalnya aja.., sakit gigi, mata merah karena iritasi, asam lambung, maag, diare/mencret, sakit kepala, dan lain sebagainya. Kalau kita kena Day by Day.. a.k.a DBD (Demam Berdarah Dengue), itu berarti masih tergolong دَاء yaa teman-teman. What if -let me say it loudly- you`ve had broken your heart? Nah.., perih cenat-cenut yang kamu rasain itu termasuk kategori دَاء apa nggak kira-kira..? 😂

(b) مَرَض , apabila sakitnya berhubungan dengan penyakit non-fisik, tapi kemudian membawa pengaruh ke keadaan fisik kita. Atau bisa juga dipahami sebagai penyakit yang masih terkait dengan fisik, tapi susah sembuhnya kalau cuma ngandalin obat-obatan dari dokter aja. Kudu ada ikhtiar bathinnya gitu loh, serta bertawakkal kepada Allah SWT.

        Wabilkhusus kata مَرَض , ternyata ada penjelasannya lagi loh. Nggak berhenti perasaan kagumku terhadap luasnya istilah dalam bahasa Arab (note: bukan berarti aku nggak kagum sama bahasa yang ku gunakan sehari-hari yaaa). Ustadz Adi Hidayat yang memiliki pemahaman mendalam terhadap bahasa Arab terlebih dahulu ngebahas istilah Al-Qur`an yang berkaitan dengan hal-ihwal reproduksi dan embriologi. Beliau menyitir surat Al-Mukminun : 12-14, tentang asal mula manusia.. dimulai dari fertilisasi nutfah (mani) dengan ovum, kemudian berkembang membentuk "sesuatu" yang menempel di permukaan rahim sebelum akhirnya terbenam dalam rahim. Didalam rahim, embrio akan terus berkembang hingga membentuk fetus (janin) yang memiliki bentuk seperti manusia... manusia yang berukuran mini, lengkap dengan seluruh organ ekstremitas hingga jemari. Maha Suci Allah SWT, Sang Pencipta Yang Paling Baik (أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ).

        Sewaktu mendengar penjelasan Beliau, dititik ini aku ngerasa bahasan ini cukup dalam dan agak jauh dari topik sakit/penyakit. Belum nemuin benang merahnya gitu rasanya sih. Ternyata penjelasan lanjutannya nih yang bikin engeh, berasa dapat enlightenment. Ah.. betul sekali memang pesan dari mbahku, "Ngelmu iku pancen kudu kuat tirakat lan sabar" (bhs. Jawa : menuntut ilmu memang harus kuat untuk tirakat serta bersabar). Pada saat bentukan janin telah sempurna, Allah SWT akan meniupkan ruh. Pada saat bersatunya ruh dan jasad inilah, Allah SWT mulai mengilhamkan tentang perkara fujur dan takwa (As-Syams : 7-8).

        Ini dia yang aku tunggu, beneran. Akhirnya benang merahnya ketemu, nih. Saat kita mulai bertumbuh besar, kemudian mampu memahami dan memilah perkara baik & buruk, hitung-hitungan takwa dan fujur sudah berlaku. Perkara takwa adalah segala sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah SWT. Sementara itu, perkara fujur bisa dipandang sebagai pembanding agar manusia melibatkan akal dan qalbunya agar lebih bertakwa. Lho kok bisa gitu..? Iya, fujur itu simpelnya adalah perbuatan melanggar syariat. Kalau kita tidak menuruti nafsu untuk berbuat fujur, alhamdulillah peluang berbuat takwa akan jauh lebih besar.

        Seandainya ceritanya lain..? Katakanlah jika kita ternyata terjebak pada perbuatan fujur, ambil contoh iri dengki, marah meledak-ledak, hasad, and so on.. maka sebenernya kita udah nabung untuk menderita مَرَض , dan ini yang berbahaya. Oh iya.. Ingat sama potongan ayat ini nggak..? Kata مَرَض ditujukan pada qalbu, bukan organ hati yaa maksudnya. Dapat kita pahami nih, qalbu yang sifatnya non-fisik juga bisa menderita penyakit.

فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ
"Dalam hati mereka ada penyakit..." (Al-Baqarah : 10)

        Let say, salah satu penyakit yang diderita oleh qalbu adalah hasad. Orang yang punya sifat hasad, ga tenang hidupnya.. ruhani yang sakit, jasmaninya jadi ikutan kebawa (bukan aku, sumpah.. ini based on true story-nya orang lain). Ada loh, kasus orang yang saking parahnya punya sifat hasad ke orang lain, malah jadinya si orang hasad itu kena darah tinggi, jantung, dan stroke. Serem banget ini kan...? Kinda suicidal, but gently.
        
        Bukan jasmaninya yang sakit, tapi ruhaninya. Sakit jasmani, diri kita sendiri yang paling tahu dimana letaknya. On the other hand, kalau sakit ruhani.. orang lain yang lebih merasakannya dan akan ikut terkena dampaknya.

5. Kalau memang sudah terlanjur sakit, apa yang harus dilakukan...?
        Sabar.. kita pahami pelan-pelan dulu ya. Kita akan mulai pelajari dari segi bahasanya dulu. Aku suka dengan kemiripan bahasa Arab pada kata obat dan sakit. Cuma beda satu huruf. Kalau sakit itu دَاء , dan obat itu (secara umum) adalah دَوَاء . Mungkin dari kalian ada yang pernah dengar tentang hadist berikut ini:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah 'azza wajalla". (HR. Muslim)

        Cakep banget kan ya? Rasulullah Muhammad SAW memberikan kita secercah harapan untuk mencapai kesembuhan. Ini dulu deh yang paling penting, harapan dan kemauan untuk sembuh yang tumbuh dari dalam diri sendiri. Inner power yang tumbuh dari spiritual quotient gitu lah yaa kira-kira. Nanti, insyaAllah pada tulisan berikutnya kita akan bahas kaitannya dengan metabolisme tubuh. Sekarang lanjut dulu yaa. Pada hadist yang lain, kita juga dapat temukan kata دَاء tetapi tidak disandingkan dengan kata دَوَاء begini hadistnya:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً
"Tidaklah Allah menurukan suatu penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya". (HR. Bukhari)

        Begini penjelasan Ustadz Adi Hidayat terkait diksi شِفَاءً , terkadang kita akan menjumpai penyakit yang susah untuk ditangani oleh dokter.. baik dari fisik maupun non-fisik. Upaya manusia, sekuat apapun itu, tidak akan bisa menyembuhkan sakit tersebut.. kecuali hanya dengan pertolongan berupa penawar (شِفَاءً) dari Yang Maha Penyembuh (الشَّافِي), Allah SWT.

        Mungkin saat ini ada dari kita yang sedang sakit, dan sedang berikhtiar sekuat tenaga untuk lekas pulih kembali seperti sediakala. Bersabarlah dengan sakit yang kita derita, karena hal tersebut bisa menjadi penghapus dosa/kesalahan yang pernah kita perbuat.

(a) Bersabarlah
        Usah kau resah.. Tidak apa, semua akan baik saja. Betapa Allah SWT menyayangi hamba-Nya, serta kemudian menunjukkannya dengan cara istimewa. Coba kita perhatikan hadist berikut ini.

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya". (HR. Bukhari)

(b) Ikhtiar. 
        Selain bersabar terhadap apa yang tengah kita hadapi, kita ga boleh diem gitu aja. Sabar terhadap ujian bukan berarti bersikap pasif yaa.. kudu dan wajib banget untuk berikhtiar. Bentuk ikhtiar kita kalau sedang sakit fisik adalah ke dokter, terus bakal dapat resep, tebus di apotek, dan minum obatnya sampai habis. Bisa juga dokter merujuk kita ke rumah sakit, dan ternyata kita harus stay beberapa hari disana.. itu juga termasuk bagian ikhtiar kita agar bisa sembuh. Intinya adalah, kalau yang diderita adalah sakit fisik, please mintalah bantuan dokter dan tenaga medis. 

        Apabila sakit yang diderita ternyata non-fisik, ikhtiar kita adalah mendatangi majelis ilmu. Kalau aku boleh jujur sih yaa.. aku menghindari majelis lucu yang kebetulan ada di channel Youtuber`s asal Indonesia. Ini preferensi pribadi, karena yang aku inginkan adalah obat untuk hati, tidak hanya sekedar tertawa haha-hihi. Anyway, bicara tentang obat untuk hati, ada 5 perkara yang gampang dilaksanakan. 
(1) Pertama, baca Qur`an dan memaknainya (dengan bantuan seorang yang `alim). 
(2) Kedua, sholat malam.. tahajjud, meskipun dua rakaat coba aja diistiqomahin.
(3) Ketiga, cari circle orang-orang yang shalih/shalihah.. beneran ini healing banget. 
(4) Keempat, berpuasa.. berpuasa dapat kita anggap sebagai banteng benteng bagi seorang muslim.
(5) Kelima, memperbanyak berdzikir (mengingat Allah SWT) pada malam hari. 

        Kalau pada bagian awal aku sempat nyinggung "Mens sana in corpore sano", sekarang aku ingin seegaknya berbagi insight ke kalian semua.. Selain jasmani dan pikiran, ada elemen ruhani yang harus kita rawat, nggak boleh kita abaikan. Sebagaimana jasmani yang bisa kelaparan, ruhani juga demikian.. bisa merasakan hal yang sama. Ruhani yang kelaparan, sakit, atau mengalami defisiensi nutrisi akut juga dapat menimbulkan bahaya bagi jasmani dan pikiran. So, please take care yaa...

(c) Tawakkal 
        Sabar udah, Ikhtiar udah... tinggal tawakkalnya aja nih yang perlu dilatih, hehehehe. Tawakkal kalau dari segi bahasa artinya adalah menyerahkan, mewakilkan, dan mempercayakan. Sementara itu, dalam Islam, konsep tawakkal dimaknai sebagai berserah diri..., serta mempercayakan segala urusannya hanya kepada Allah SWT semata. Bahasan-bahasan tentang tawakkal seperti ini nggak bisa klo dicerna pake otak aja.. kudu melibatkan hati. Hati kita yang paling tahu, kapan aja sih poin-poin dalam hidup kita dimana kita udah ngerasa mentok.. udah ngelakuin semua yang kita bisa.. dan murni berserah hanya kepada Allah SWT. 

        Sabar, ikhtiar, dan tawakkal itu proses kehidupan.. yang secara alami kita lakuin. Nggak bisa berharap sukses 100% pada first trial.. karena emang ketiga proses tersebut membutuhkan latihan seumur hidup.


Kesimpulan
        Pada penghujung tulisan kali ini, aku ingin flashback sebentar ke bagian awal (part 1) yang aku tulis bulan lalu. Aku yang saat itu ngerasa butuh obat tapi nggak tahu harus cari kemana.. tiba-tiba aja Allah SWT kasih, dari jalan yang nggak disangka-sangka. Allah SWT langkahkan kakiku ke SMA 5 Malang, dan nemuin hikmah dari perjalanan itu.
        
        Nggak cukup sampai disitu, pada perjalanan pulang menuju rumah (aku tulis di part 2).. Allah SWT tunjukin betapa Dia sangat care kepada semua makhluk-Nya.., sehingga sifat Rahman dan Rahim-Nya juga diturunkan kepada manusia. Ummat manusia kemudian bisa berbuat baik.. serta berkasih sayang ke sekitarnya . Nah disini titik sadarku,.. nggak akan mencoba mengelak atau denial lagi atas segala yang terjadi.
.
.
Aku terima semuanya dengan sesadar-sadarnya...
.
.
Aku harus keluar dari jebakan pikiran picik, yang melihat diri ini sebagai pusat semesta... (astaghfirullah)
.
.
Aku seharusnya kudu mengekspresikan rasa cinta kasih dan sayang yang aku miliki pada lingkup yang lebih besar, bahkan kalau bisa sampai pada lingkup semesta.. sebagai bentuk kepatuhanku atas perintah-Nya. Caranya... mbuhlah, pikir keri wae, sing pasti Gusti Allah SWT mboten sare (bhs. Jawa : tidak tahulah, dipikir nanti saja.. yang pasti Allah SWT tidak tidur), nanti pasti akan ditunjukkan jalan keluarnya. 😂

        Kalau pada part 3 ini, aku tulis karena emang aku kepikiran tentang kesehatan aja. Aku ingin sembuh, dan sebisa mungkin juga bantu orang lain agar bisa sembuh. Aku tahu semua orang saat ini bener-bener concern dengan isu kesehatan. Mencoba memberikan alternatif perspektif, bahwa sehat itu juga harus `afiyah. Saking pentingnya `afiyah, Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk berdoa sebagaimana berikut.. (Yuk kita amalkan bareng yaa 😄)
اللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ
Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf, dan ‘afiyat di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf dan ‘afiyat pada agamaku, keluargaku dan hartaku…”. (HR, Abu Daud)

        Buat yang sekarang diberikan kesehatan oleh Allah SWT, tetaplah waspada. Jagalah diri kita dan keluarga kita kalau bisa yaa... Kita belum lepas dari pandemi Covid-19. Nggak papa cerewet soal protokol kesehatan, ini bentuk usaha kita menjaga orang-orang terdekat kita agar terhindar dari infeksi. Dan yang pasti, selalu mohon perlindungan kepada Allah SWT, agar kita dijauhkan dari marabahaya pandemi ini. Aku tahu pandemi ini pukulan berat bagi kita semua.. yuk kita nggak lupa untuk selalu berdo`a agar pandemi ini segera berakhir, dan kehidupan ummat manusia setidaknya bisa terasa lebih ringan. Bismillah, yakin bisa.


Malang, 8 Juli 2021
Langit akan cerah.. Mendung akan tersibak.. Cahaya mentari akan menyapa

Jumat, 25 Juni 2021

Di-tampol, saat Berkunjung Ke SMAN 5 Malang! (Part-2)

Secara tidak sadar meletakkan pemahaman terhadap ajaran agama, dalam posisi (yang mungkin) lebih rendah dibandingkan dengan pemahaman terhadap teori kekinian, disinilah titik yang menggelincirkan..

Hai semua, gimana kabarnya?
Hari ini saya mau ngelanjutin cerita dari postingan bagian pertama, agar bisa diambil hikmahnya (well, at least for me). Sayang rasanya kalau ada hal menarik yang terlewat begitu saja bukan?

        Perkataan Bapak yang berperawakan gahar itu masih terngiang-ngiang, tidak begitu mudah lepas dari ingatan. Kok bisa? Padahal ketemu juga baru kali itu aja. Durasinya juga tak lama. Ah, ini mungkin jawaban dari pertanyaan yang seringkali terlintas dalam kepala. Betapa baiknya Allah SWT, memberikan solusi gratis gini kepada hamba-Nya. Sambil nyetir, sambil mikir.. bismillah..

        Ada kebiasaan yang gak bisa lepas, udah nempel bertahun-tahun dalam diri.. kadang bisa bikin ngakak sendiri.. kebiasaan itu adalah berdiskusi dengan pikiran sendiri ketika berkendara, mendebat, memberikan anti-thesis terhadap setiap thesa yang diajukan, serta memunculkan alternatif pikiran. Selalu ada "what if?" dan itu seru.

        Misalnya, kalau ada sepasang remaja beda gender lagi berboncengan mesra, (kalo generasi milenial bilangnya "nyabuk") kebayang ga sih scene-nya? Pas lagi berkendara rada kencengan nih, tetiba didepan ada motor yang selauw gitu.. motornya kadang minggir, kadang rada ke tengah. Lah, saya yang kebetulan ada dibelakang mereka, suka "gatel" aja lihatnya. Nope, bukan... bukan karena iri melihat pasangan yang berasyikmasyuk diatas motor.., tapi karena mau mendahului jadi ragu. Kesenggol atau ketabrak juga ga asik, urusan jadi panjang. Nah, buat mengalihkan rasa "gatel" yang sekian detik itu seringkali saya merasa ter-challenge buat sok-sokan jadi detektif, menebak apakah mereka pasutri atau bukan dengan melihat gesture-nya. Eh, ini seru lho, dan bikin nagih gitu. Tidak melatih kita untuk julid, tapi lebih kearah mengasah keterampilan berpikir kritis.

        Kala itu, saya tidak berjumpa dengan pasangan muda-mudi yang sedang nyabuk, syukur alhamdulillah sih. Cuma rasanya yaa... ga pengen aja melewatkan kesempatan untuk julid mengolah ATP didalam sel-sel otak menjadi letupan kecil sinyal elektrik dan kimiawi. Hahahaha. Suddenly, lagi enak-enak nyengir sendiri, mata ini ga sengaja bertumbukan dengan sebuah papan penunjuk jalan berwarna hijau terang, bertuliskan "JALAN ALTERNATIF". Bisa ditebak selanjutnya, mulai deh otak ini ngadi-ngadi.. mikir.. kenapa ya kok ada istilah jalan alternatif? seperti apa bentuknya? bisa ga dikaitkan dengan fenomena yang saya alami tadi di SMA 5 Malang?

        Okay, langsung kita mulai yaa ngadi-ngadinya. Kata alternatif, berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) artinya adalah, "pilihan diantara dua atau beberapa kemungkinan". Saya merasa ga ada ambiguitas dalam KBBI. Simple and Clear. Sementara itu, kata jalan memiliki 14 arti, saya pilih dua definisi yang menurut saya relevan dengan konteks bahasan kita, artinya "tempat untuk lalu lintas orang (kendaraan dan sebagainya)" & "perlintasan (dari suatu tempat ke tempat lain)". Jadi, hemat saya jalan alternatif bisa dimaknai sebagai beberapa kemungkinan pilihan untuk melangsungkan perlintasan dari suatu tempat ke tempat lain.

        Dari suatu tempat, ke tempat lain... kenapa kalimat tersebut membuat saya ingat tentang makna kehidupan yaa...? Dimulai dari proses kelahiran di dunia, dan diakhiri dengan masuk ke liang lahat. Ya, mirip banget sama kehidupan. Saat masih bayi, kita diberikan kesempatan minum ASI (Air Susu Ibu). Untuk bayi yang alergi sama ASI, alternatifnya minum susu formula. Rada gede dikit, kalau balita mulai ingin sekolah biasanya masuk ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), tapi ada juga yang merasa ga terlalu pengen sekolah. Begitupun juga saat TK (Taman Kanak-kanak), beberapa teman saya ada yang langsung masuk SD (Sekolah Dasar) tanpa melalui masa-masa indah TK. Beranjak ke SD, SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan SMA (Sekolah Menengah Atas) atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), mulai semakin terasa kita dituntut untuk lebih bertanggungjawab atas pilihan yang kita buat.

        Beranjak ke jenjang perkuliahan, kita semakin terfokus pada pilihan karir yang kita harapkan. Saat melamar pekerjaan, kita mencari jenis yang sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas diri. Syukur alhamdulillah jika Allah SWT mengabulkan hajat dan keinginan kita, sesuai dengan yang kita idamkan. Jika ternyata masih belum beruntung, kita masih memiliki pilihan lain untuk berwirausaha, dan justru bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Kemudian, pada fase hidup selanjutnya.. (maksud saya menikah ya.. bukan alam barzakh) saat memilih calon pendamping hidup, kita juga tidak ingin sembarangan kan? Tidaklah bisa kita berbohong pada diri sendiri, bahwa tebersit rasa ingin menjalani kehidupan dengan sosok yang terbaik, based on our version. Terus didepan si calon, pengen banget bisa ngomong, "Bismillah, aku maunya kamu.. nikah sama aku aja yuk, aku orangnya insyaAllah baik dunia akhirat, baiknya sampai ke tulang.. To the Bone, kayak lagu. Ntar barengan kita isi kehidupan dengan ibadah, siang-malam". Brrrrrr..... merinding dooong hamba... 😖Well, anyway... sadarkah kita jika sampai titik ini ternyata sudah dihadapkan dengan ratusan -atau bahkan mungkin lebih- pilihan hidup? Kemudian kita membuat keputusan penting dari berbagai alternatif yang ada, dan itu membentuk pribadi yang kita kenal sekarang, betul begitu Saudaraku?

Ilustrasi jalan tempat nenek dan si anak kecil menyeberang (Sumber: Google Maps).


        Enak-enaknya ngelamun mikir nih, tiba-tiba sekitar 25 meter dari hadapan saya ada seorang nenek dan anak kecil (kemungkinan cucu Beliau) yang melambaikan tangan, menandakan minta izin didahulukan untuk menyeberang jalan. Kaget, serta-merta saya kurangi laju kendaraan, memberikan mereka kesempatan. Lamunan saya buyar, tapi masih menyisakan senyum kecil di sudut bibir. Saya perhatikan, si anak kecil dengan telaten menggandeng lengan kiri neneknya, sama sekali tidak terlihat terburu-buru.. dia menyesuaikan kecepatan jalannya agar tidak "menyeret" sang nenek. Amboi... kejadian tersebut membuat saya memuji asma Allah SWT, indah nian akhlak anak kecil barusan. Setelah mereka sampai pada sisi seberang jalan, saya menginjak pedal gas secara perlahan.. sambil ngelanjut overthinking.

        Kita kembali ke pembahasan jalan alternatif, gapapa kan alur mikirnya loncat-loncat gini? Semoga kalian nyaman yaa bacanya. 😄 Seumur-umur, kalau sedang jalan (literally jalan atau bawa kendaraan bermotor), saya lebih suka lewat jalan utama dibandingkan dengan jalan alternatif. Alasannya, karena jalan utama biasanya berukuran lebih besar, aspalnya mulus meski hitam, bisa jalan rada ngebut, dan jarang macet. Jarang, bukan berarti tidak pernah ya... Nah, kalau macet gimana dong? Terpaksa saya memilih jalan alternatif yang biasanya jalannya lebih sempit, rute yang ditempuh lebih jauh, seringkali berlubang atau aspalnya lebih kasar, dan terkadang ditutup oleh warga lokal karena ada hajatan. Buat saya, jalan alternatif itu second choice saat jalan utama mengalami kemacetan. Hal yang kemudian membuat saya berpikir mendalam adalah.. apakah selama hidup ini, ketika kehidupan membawa saya kepada banyak pilihan, saya lebih mengutamakan segudang ilmu dan teori kekinian, serta memperlakukannya ibarat "jalan utama"? Lantas, bagaimana positioning dasar-dasar ajaran berkehidupan yang ada dalam ilmu agama, dalam kehidupan saya?

        Becermin dari kehidupan saya pribadi, ternyata ada banyak momen.. (bahkan mungkin terlalu banyak), ketika saya terlalu mengandalkan teori dan ilmu kekinian sebagai dasar utama pengambilan keputusan. Apakah sikap saya salah? Tentu tidak, tidak sepenuhnya. Kesalahan yang dikemudian hari saya sadari setelah melalui fase panjang kontemplasi adalah.., secara tidak sadar meletakkan pemahaman terhadap ajaran agama, dalam posisi (yang mungkin) lebih rendah dibandingkan dengan pemahaman terhadap teori kekinian, disinilah titik yang menggelincirkan. Okay kita coba masuk lebih dalam ya.. 

        Jika hidup adalah perjalanan dan banyak sekali cabang dan persimpangan yang kita temui dalam menempuh prosesnya, maka kita perlu menghadirkan pikiran sadar.. sadar untuk mampu mengidentifikasi manakah jalan alternatif, dan manakah jalan utama. Jika kita sudah bersaksi bahwa Islam adalah jalan hidup (The Way of Life), maka pada praktiknya.. apakah tepat kita memperlakukan ajaran agama Islam sebagai second choice, alternatif pilihan kedua yang secara hirarki lebih rendah dibanding ilmu & teori kekinian? 

        Ingat nggak, kalau kita ternyata udah sering banget menyampaikan kalimat ikrar.. bahwa sholat, ibadah, qurban, hidup, dan mati kita.. semuanya hanya untuk Allah SWT semata, Tuhan penguasa alam semesta raya (Al-An`am : 162). Seandainya kita ngerasa iman kita rada-rada goyah, bukannya Allah SWT juga dengan lembutnya sudah memberikan kita pengingat.. bahwa selama kita masih berpegangteguh dalam ajaran Islam, maka kita sesungguhnya berada di jalan yang lurus, still- keep on the track (Az-Zukhruf : 43). Kalau masih muncul aja tuh keraguan dalam hati, gimana dong? Coba simak awal surat Al-Baqarah, tegas disampaikan bahwa Al-Qur`an itu tidak ada keraguan didalamnya.. isinya adalah petunjuk bagi yang bertakwa. Sampai disini, saya merasa tidak selayaknya menempatkan ilmu-ilmu yang ada dalam ajaran Islam dalam pilihan kedua. Sikap yang kemudian saya pilih, maka saya akan menganggap Islam ibarat pohon.. bagian akarnya adalah rukun iman & rukun Islam,  batang pokoknya adalah ilmu-ilmu dalam ajaran agama Islam, bagian dahannya adalah ilmu & teori kekinian, serta daun-bunga-buah adalah bentuk kontribusi muslim bagi dunia. Membiarkan dahan terpisah dari batang pokok bisa mengakibatkan kematian.. tidak hanya pada dahan, tapi juga daun, bunga, dan buah. 

        Nggak terasa sudah dekat tujuan, dari jauh terlihat pepohonan rimbun yang ada di halaman depan rumah. Saya menyunggingkan senyum, sambil menikmati kerandoman yang baru saja selesai saya alami. Sebelum memarkirkan kendaraan, saya coba me-review ulang apa yang saya dapatkan disepanjang perjalanan menuju rumah. Berikut ini ringkasannya: 1) harus secara sadar bisa memutuskan serta bertanggungjawab terhadap pilihan hidup, 2) selalu merujuk kepada ajaran agama Islam saat mengambil keputusan, 3) tidak menempatkan ajaran Islam dalam posisi yang lebih rendah dibanding dengan ilmu & teori kekinian, 4) terus semangat mencari ilmu dari para ulama` dan habaib yang lurus, 5) melatih diri agar memiliki akhlak terpuji. Alhamdulillah.. 

        Turun dari kendaraan, langsung ke kamar mandi. Bersih diri sekaligus ganti baju, sebagai bentuk tindakan preventif terhadap paparan virus Covid-19. Gapapa ribet, yang penting sehat. Kali ini saya cukupkan sampai disini dulu yaa.. next time kita lanjutkan lagi ceritanya. 

Malang, 2 Juni 2021
Akhirnya saya sampai di rumah.. Langit masih mendung.. Rintik gerimis mulai turun..


PERUBAHAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (Bagian 1) ---MATERI KELAS X SEMESTER GENAP--- KURIKULUM MERDEKA

 ----  KEGIATAN AWAL PEMBELAJARAN  ---- 📌  Note  : Pernahkah kalian mengamati sawah yang berada disekeliling sekolah? Bagaimana kondisi saw...